Macem2

Macem2

Jumat, 20 Januari 2012

Kurikulum Pendidikan Islam


BAB II
PEMBAHASAN

A.   Pengertian Kurikulum
Secara etimologis, kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yaitu curcil yang artinya pelari dan curare yang berarti tempat berpacu. Jadi, istilah kurikulum berasal dari dunia olah raga pada zama Romawi Kuno di Yunani, yang mengandung pengertian suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai garis finish.
Dalam bahasa Arab, kata kurikulum biasa diungkapkan dengan manhaj yang berarti jalan yang terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupan. Sedangkan kurikulum pendidikan manhaj al-dirasah dalam kamus tarbiyah adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan.[1]
Secara terminologis menurut Crow and Crow kurikulum adalah rancangan pengajaran atau sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis untuk menyelesaikan suatu program untuk memperoleh ijazah. Sedangkan M. Arifin memandang kurikulum sebagai seluruh bahan pelajaran yang harus disajikan dalam proses kependidikan dalam suatu sistem institusional pendidikan.[2]
Kurikulum secara luas menurut Hasan Langgulung adalah sejumlah pengalaman, pendidikan, kebudayaan, social, keolahragaan dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid di dalam dan di luar sekolah dengan maksud menolong mereka untuk berkembang dan mengubag tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan pendidikan.[3]
Jadi, kurikulum juga berupa pengalaman belajar, baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah, bahkan sekolah dianggap miniature masyarakat. Jika orang mengetahui karakteristik masyarakat suatu daerah, maka sekolahnya sebagai media yang sangat strategis dan representative untuk melihatnya. Setiap nilai yang lahir dan diperoleh dari sekolah akan termanifestasi dalam kehidupan masyarakat juga, baik negative maupun positif.

B.   Komponen Kurikulum

Mengingat bahwa fungsi kurikulum dalam proses pendidikan adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Maka kurikulum itu isinya luas sekali.
1.    Menurut Hasan Langgulung ada 4 komponen utama kurikulum yaitu:
a.       Tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan. Dengan lebih tegas lagi orang yang bagaimana yang ingin kita bentuk dengan kurikulum tersebut.
b.      Pengetahuan (knowledge), informasi-informasi, data-data, aktifitas-aktifitas dan pengalaman-pengalaman dari mana terbentuk kurikulum itu. Bagian inilah yang disebut mata pelajaran.
c.       Metode dan cara-cara mengajar yang dipakai oleh guru-guru untuk mengajar dan memotivasi murid untuk membawa mereka ke arah yang dikehendaki oleh kurikulum.
d.      Metode dan cara penilaian yang dipergunakan dalam mengukur dan menilai kurikulum dan hasil proses pendidikan yang direncanakan kurikulum tersebut.
2.    Menurut penulis komponen kurikulum itu meliputi:
a.       Tujuan, yang ingin dicapai meliputi : (1) Tujuan Akhir, (2) Tujuan Umum, (3) Tujuan Khusus, (4) Tujuan Sementara.
Di dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi seorang pendidik harus pula dapat merumuskan kompotensi yang ingin dicapai, yaitu : (1) Kompetensi lulusan, (2) Kompetensi lintas kurikulum, (3) Kompotensi mata pelajaran, dan (4) Kompetansi dasar.
b.         Isi kurikulum                                                  
Berupa materi pembelajaran yang diprogram untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
c.         Media (sasaran dan prasaran)
Media sebagai sarana perantara dalam pembelajaran untuk menjabarkan isi kurikulum agar lebih mudah dipahami oleh peserta didik.
d.        Strategi
Strategi merujuk pada pendekatan dan metode serta teknik mengajar yang digunakan. Dalam strategi termasuk juga komponen penunjang lainnya seperti : (1) sistem administrasi, (2) pelayanan BK, (3) remedial, (4) pengayaan, dsb.
e.         Proses pembelajaran
Komponen ini sangat penting, sebab diharapkan melalui proses pembelajaran sebagai indikator keberhasilan pelaksanaan kurikulum.
f.          Evaluasi
Dengan evaluasi (penilaian) dapat diketahui cara pencapaian tujuan.


C.   Kerangka Dasar Kuriku;lum Pendidikan Islam

Kurikulum yang baik dan relefan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam adalah yang bersifat intergrated dan komperensif serta menjadikan al-quran dan hadits sebagai sumber utama dalam penyusunannya.
Di dalam al-quran dan hadits ditemukan kerangka dasar yang dapat dijadikan sebagai pedoman oprasional dalam penyusunan dan pengembangan kurikulaum pendidikan Islam. Kerangka dasar tersebut adalah tauhid dan perintah membaca.
1.      Tauhid
Tauhid sebagai kerangka utama kurikulum harus dimantabkan semenjak masih bayi dimulai dengan memperdengarkan kalimat-kalimat tauhid seperti azan atau ikomah terhadap anak yang baru dilahirkan.
Bila dianalisis materi azan yang akan dikumandangkan adalah materi pendidikan Islam yang paling awal yang akan diberikan oleh seorang anak dalam trasformasi dan internalisasi nilai dalam pendidikan Islam, agar anak senantiasa terbimbing kesuasana yang selaras dengan hakikat penciptanya sebagai pengabdi kepada Allah. Tauhid sebagai falsafah dan pandangan hidup umat Islam meliputi konsep keMaha Esaan Allah, serta keunikan Allah atas semua mahluk-Nya, Allah swt, unik dan Esa dalam dan perbuatan. Tauhid merupakan prinsip utama dalam sebuah dimensi kehidupan manusia baik hubungan fertikal dengan Allah maupun hubungan horizontal dengan manusia dengan alam. Tauhid yang seperti inilah yang dapat menyusun pergaulan yang harmonis sesamanya.
Menurut Muhammad Fazlul Rahman Anshari, tauhid sebagai filsafat
dan pandangan hidup umat Islam meliputi konsep ketauhidan Allah, ketauhidan alam semesta, dalam hubungan Allah dengan kosmos, ketauhidan kehidupan, ketauhidan natural dan supernatural, ketauhidan pengetahuan, ketauhidan iman dan ratio, ketauhidan kebenaran, ketauhidan agama, ketauhidan cinta dan hukum, ketauhidan umat, ketauhidan mengenai  jenis kelamin laki-laki dan perempuan, ketauhidan kepribadian manusia, ketauhidan mengenai kebebasan dan diterminisme, ketauhidan dalam term politik, ketauhidan dalam kehidupan sosial, ketauhidan negara dan agama, ketauhidan dalam term ekonomi, ketauhidan dalam dasar kebudayaan dan ketauhidan dalam dasar satu cita satu ideal.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dengan ketauhidan kita dapat mewujudkan tata dunia yang harmonis kosmos yang penuh tujuan, persamaan sosial, persamaan kepercayaan, persamaan jenis dan ras, persamaan dalam segala aktivitas dan kebebasan bahkan seluruh masyarakat dunia adalah sama yang disebut “ummatan wahidah”.
Dengan demikian maka tauhid merupakan prinsip utama dalam seluruh dimensi kehidupan manusia baik dalam aspek hubungan vertical antara manusia dengan Tuhan maupun aspek hubungan horizontal antara manusia sesamanya, dan dengan alam sekitarnya. Tauhid yang seperti inilah yang dapat menyusun per gaulan manusia secara harmonis sesamanya, dalam rangka menyelamatkan manusia dan perikemanusiaan dalam rangka pencapaian kehidupan yang sejahtera dan bahagia duniawi dan ukhrawi, termasuk didalamnya pergaulan dalam proses pendidikan. Tauhid yang seperti inilah yang dijadikan kerangka dasar kurikulum
pendidikan Islam.

2.      Perintah Menbaca
Kerangka dasar selanjutnya adalah perintah “membaca” ayat-ayat Allah yang meliputi tiga macam ayat, yaitu:
(1)   Ayat Allah yang berdasarkan wahyu,
(2)   Ayat Allah yang ada pada diri manusia, dan
(3)   Ayat Allah yang terdapat di alam semesta di luar diri manusia.

Firman Allah swt:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (١)خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (٢)اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ (٣)الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (٤)عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (٥)
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Ditinjau dan segi kurikulum, sebenarnya firman Allah SWT itu merupakan bahan pokok pendidikan yang mencakup seluruh pengetahuan yang dibutuhkan oleh manusia. Membaca selain melibatkan proses mental yang tinggi, pengenalan (cognition), ingatan (memory), pengamatan (perception), pengucapan (verbalization), pemikirun (reasoning), daya cipta (creativity). Juga sekaligus merupakan bahan pendidikan itu sendiri. Mungkin tak ada satu kurikulum pendidikan di dunia ini yang tidak mencantumkan membaca sebagai materinya, bahkan umumnya membaca ini terlaksana mulai Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi dengan berbagai variasi. Selanjutnya membaca merupakan alat sistem perhubungan (communication system) yang merupakan syarat mutlak terwujudnya dan berkelanjutan suatu sistem sosial (sosial system).
Tidaklah berlebihan jika perkataan membaca yang dikembangkan dari wahyu pertama ini memiliki pengertian yang demikian lengkapnya sebagai sesuatu sivilisasi.
Kelima ayat tersebut pada dasarnya telah mencakup kerangka kurikulum pendidikan Islam, yang jika di jabarkan sebagai berikut:
(1)   “Bacalah! Dangan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan”. Tekanan yang terkandung dalam ayat ini adalah kemampuan membaca yang dihubungkan dengan nama Tuhan sebagai pencipta. Hal ini erat hubungannya dengan ilmu naqli (perenial knowledge).
(2)   Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Ayat tersebut mendorong manusia untuk mengintrofeksi, menyelidiki tentang dirinya dimulai dari proses kejadian dirinya. Manusia ditantang dan diransang untuk mengungkapkan hal itu melalui imaginasi maupun pengalamannya.
(3)   Bacalah, dan tuhanmulah yang paling pemurah, Yang mengajarkan kepada manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Motivasi yang terkandung dalam ayat ini adalah agar manusia terdorong untuk mengadakan eksplorasi alam dan sekitarnya dengan kemampuan membaca dan menulisnya. Ayat yang pertama kemudia dikembangkan dalam bentuk ilmu-ilmu berhubungan dengan wahyu Allah yang termuat dalam Al-Qur’an. Ayat kedua dikembangkan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan diri manusia sebagai makhlik ciptaan Tuhan, dan ayat yang ketiga berhubungan dengan alam sekitarnya, berkaitan dengan amal. Ketiga macam ayat Allah tersebut jiwanya adalah “tauhid”. Disinilah letak kurikulum pendidikan Islam, sebab menurut Islam semua pengetahuan dating dari Tuahan, tetapi cara penyampaiannya ada yang langsung dari Tuhan dan ada yang melalui pemikiran manusia dan pengalaman indera yang berbeda satu sama lain.

D.   Dasar Kurikulum Pendidikan Islam

Yang menjadi dasar dalam penyusunan kurikulum pendidikan Islam adalah:
1.      Dasar agama
Dasar agama, dalam arti segala system yang ada dalam masyarakat termasuk pendidikan, harus meletakkan dasar falsafah, tujuan dan kurikulumnya pada dasar agama Islam dengan segala aspeknya. Dasar agama ini dalam kurikulum pendidikan Islam jelas harus didasarkan pada Al-Qur’an, As-Sunnah dan sumber-sumber yang bersifat furu’ lainnya.
2.      Dasar falsafah
Dasar ini memberikan pedoman bagi tujuan pendidikan Islam secara filosofis sehingga tujuan, isi dan organisasi kurikulum mengandung suatu kebenaran dan pandangan hidup dalam bentuk nilai-nilai yang diyakini sebagai suatu kebenaran, baik ditinjau dari segi ontology, epistimilogi, maupun axiologi.
3.      Dasar psikologis
Dasar ini memberikan landasan dalam perumusan kurikulum yang sejalan dengan ciri-ciri perkembangan psikis peserta didik, sesuai dengan tahap kematangan dan bakatnya, memperhatikan kecakapan pemikiran dan perbedaan perseorangan antara satu peserta didik dengan lainnya.
4.      Dasar social
Dasar ini memberikan gambaran bagi kurikulum pendidikan Islam yang tercermin pada dasar social yang mengandung cirri-ciri masyarakat Islam dan kebudayaannya. Baik dari segi pengetahun, nilai-nilai ideal, cara berfikir dan adat kebiasaan, seni dan sebagainya. Sebab tidak ada suatu masyarakat yang tidak berbudaya dan tidak ada suatu kebudayaan yang tidak berada pada masyarakat. Kaitannya dengan kurikulum pendidikan Islam sudah tentu kurikulum ini harus mengakar pada masyarakat dan perubahan dan perkembangan.
5.      Dasar organisatoris
Dasar ini memberikan landasan dalam penyusunan bahan pembelajaran beserta penyajiannya dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan dasar di atas, maka penyusunan sebuah kurikulum pendidikan Islam harus berdasarkan dasar-dasar di atas: dasar religius memberikan nilai terhadap semua materi yang ada dalam kurikulum. Dasar filosofis berperan sebagai penentu tujuan umum pendidikan. Sedangkan dasar sosiologis berperan memberikan dasar untuk menentukan apa saja yang akan di pelajari sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kebudayaan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sementara dasar organisator berfungsi memberikan dasar-dasar dalam bentuk bagimana bahan pelajaran itu disusun, dan bagaimana penentu luas dan urutan mata pelajaran. Selanjutnya dasar psikologis berperan memberikan berbagai prinsip-prinsip tentang perkembangan peserta didik dalam berbagai aspeknya, serta cara menyampaikan bahan pelajaran agar dapat dicerna dan dikuasai oleh peserta didik sesuai dengan tahap perkembangannya.




E.   Prinsip-prinsip Penyusunan Kurikulum

Prinsip-prinsip tersebut berbeda-beda menurut analisis para ahli. Dalam merumuskan kurikulum pendidikan Islam penulis ambil pemikiran para ahli tersebut kemudian ditambah dan disesuaikan dengan esensi kurikulum pendidikan Islam.
Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
1.       Prinsip berasaskan Islam termasuk ajaran dan nilai-nilainya. Maka setiap yang berkaitan dengan kurikulum, termasuk falsafah, tujuan-tujuan, kandungan-kandungan, metode mengajar, cara-cara perlakuan, dan hubungan-hubungan yang berlaku dalam lembaga-lembaga pendidikan harus berdasarkan pada agama dan akhlak Islam.
2.      Prinsip mengarah pada tujuan adalah seluruh aktivitas dalam kurikulum diarahkan untuk mencapai tujuan dan dirumuskan sebelumnya.
3.      Prinsip (integritas) antara mata pelajaran, pengalaman-pengalaman, dan aktiviti yang terkandung di dalam kurikulum, begitu pula dengan pertautan antara kandungan kandungan kurikulum dengan kebutuhan murid juga kebutuhan masyarakat.
4.      Prinsip relevansi adalah adanya kesesuaian pendidikan dengan lingkungan hidup murid, relevansi dangan kehidupan masa sekarang dan akan dating, relevansi dengan tuntutan pekerjaan.
5.      Prinsip Fleksibilitas adalah terdapat ruang gerak yang memberikan sedikit kebebasan dalam bertindak, baik yang berorientasi pada Fleksibelitas pemilihan program pendidikan maupun dalam mengembangkan program pengajaran.
6.      Prinsip Integritas adalah kirikulum tersebut dapat menghasilkan manusia seutuhnya, manusia yang mampu mengintegrasikan antara fakultas dzikir dan fakultas fikir, serta manusia yang dapat menyelaraskan struktur kehidupan dunia dan struktur kehidupan akhirat.
7.      Prinsip efisiensi adalah agar kurikulum dapat mendayagunakan waktu, tenaga, dana dan sumber lain secara cermat tepat, memadai dan dapat memenuhi harapan.
8.      Prinsip kontinuitas dan kemitraan adalah bagaimana susunan kurikulum yang terdiri dari bagian yang berkelanjutan dengan kaitan-kaitan kurikulum lainnya, baik secara vertical (perjenjangan, tahapan) maupun secara horizontal.
9.      Prinsip Individualitas adalah bagaimana kurikulum memperhatikan perbedaan pembawaan dan lingkungan anak pada umumnya yang meliputi seluruh aspek pribadi anak didik, seperti perbedaan jasmani, watak intelijensi, bakat serta kelebihan dan kekurangannya.
10.   Prinsip kesamaan memperoleh kesempatan, dan demokratis adalah bagaimana kurikulum dapat memperdayakan semua peserta didik memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap sangat diutamakan. Seluruh peserta didik/santri dari berbagai kelompok seperti kelompok yan kurang beruntung secara ekonomi dan social yang memerlukan bantuan khusus, berbakat dan unggul berhak menerima pendidikan yang tepet sesuai dengan kemampuan dan kecepatannya.
11.    Prinsip kedinamisan adalah agar kurikulum itu tidak statis, tetapi dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan sosial.
12.   Prinsip keseimbangan adalah bagaimana kurikulum dapat mengembangkan sikap potensi peserta didik secara harmonis.
13.   Prinsip efektivitas adalah agar kurikulum dapat menunjang efektivitas guru yang mengajar dan peserta didik yang mengajar.
F.    Klasifikasi Ilmu dalam Kurikulum Pendidikan Islam

Para ahli pikir muslim telah banyak memberikan pandangannya trtang apa saja yang harus diketahui dan dipelajari oleh mnusia selaku hamba Allah, selaku anggota masyarakat dan selaku pribadi berakhlak susila.
1.      Al-Ghazali membagi ilmu pengetahuan menjadi tiga kelompok ilmu, yaitu:
a.       Ilmu yang tercela banyak atau sedikit. Ilmu ini tak ada manfaatya bagi manusia di dunia ataupun di akhirat, misalnya ilmu sihir nujum dan perdukunan. Nilai ilmu ini dipelajari akan membawa mudharat dan akan meragukan kebenaran akan adanya Allah. Oleh karena itu jauhilah ilmu tersebut.
b.      Ilmu yang terpuji, banyak atau sedikit, misalnya ilmu tauhid, ilmu agam. Ilmu ini bila dipelajari akan membawa orang kepada jiwa yang suci bersih dari kerendahan dan keburukan serta dapat mendekatkan diri kepada Allah.
c.       Ilmu yang terpuji pada taraf tertentui yang tidak boleh dial;ami, karena ilmu ini dapat membawa kepada kegoncangan iman, misalnya ilmu filsafat.
Dari segi ilmu kelompok tersebut, Al-Ghazali membagi lagi menjadi dua kelompok dilihat dari kepentingnnya yaitu:
1.      Ilmu yang Fardhu (wajib)’ain yaitu ilmu untuk diketahui semua orang muslim yaityu ilmu agama, ilmu yang bersumberkan kitab suci Allah.
2.      Ilmu yang fardhu kifayuah untuk dipelajari oleh sebagian muslim. Ilmu ini adalah ilmu yang dimanfaatkan untuk memudahkan urusan hidup duniawi, misalnya ilmu hitung (matematika), ilmu kedokteran, ilmu teknik, ilmu pertanian dan industri.
Al-Ghazali mengusulkan beberapa ilmu pengetahuan yang harus dipelajari di sekolah sebagai berikut:
a.       Ilmu-ilmu fardhu ‘ain yaitu Al-Qur’an dan ilmu agama seperti fiqh, hadits dan tafsir.
b.      Sekumpulan bahasa, nahwu dan makhraj serta khafadh-khafadhnya, karena ilmu ini berfungsi membantu ilmu-ilmu agama.
c.       Ilmu-ilmu yang fardhu kifayah yaitu ilmu kedokteran, matematika, teknologi yang berneka macam jenisnya, termasuk juga ilmu politik.

2.      Ibnu Khaldun membagi ilmu menjadi tiga macam yaitu:
a.       Ilmu nlisan (bahasa) yaitu bilmu lughah, nahwu, bayan dan sastra (adsab) atau bahasa yang tersusun secara puitis (syair).
b.      Ilmu naqli yaitu ilmu yang diambil dari kitab suci atau sinnah Nabi. Ilmu ini berupa membaca kitab suci Al-Qur’an dan tafsirnya sanad hadits. Dengan ilmu ini manusia akan dapat mengetahui hokum-hukum Allahj yang diwajibkn atas manusia. Dari Al-Qur’an itulah akan didapati ilmu-ilmu tafsir, ilomu hadits, ilmu ushul fiqih yang dapat dipakai untuk menganalisa hokum-huum Allah itu melalui cara istinbath.
c.       Ilmu aqli yaitu ilmu yang dapat mnunjukkan manusia mempergunakan daya piker atau kecerdasannya kepada filsafat dan semua ilmu pengetahuan. Termasuk dala kategori ilmu ini adalah ilmu mantiq (logis), ilmu alam, ilmu ketuhanan, ilmu teknik, hitung dan tingkah laku manusia. Termasuk juga ilmu sihir dan ilmu nujum (perbintangan). Tentang ilmu nujum Ibnu Khaldun menganggapnya sebagai ilmu fasid, karena ilmu ini dipergunakan untuk meramalkan segala kejadian sebelum terjadi atas dasar perbintangan. Hal itu merupakan sesuatu yang bathil berlawanan dangan ilmu tauhid yang menegaskan bahwa tidak ada yang menciptakan kecuali Allah sendiri.
Dari segi kepentingan untuk para pelajar, Ibnu Khaldun membagi ilmu menjadi:
a.       Ilmu seni dengan semua jenisnya.
b.      Ilmu filsafat seperti ilmu alam dan ketuhanan.
c.       Ilmu alat yang membantu agama seperti ilmu lughah, nahwu dan sebagainya.
d.      Ilmu alat yang membantu ilmu falasafah seperti ilmu mantiq (logis).
3.      Dr. Abdurrahman Saleh Abdullah, mengkategorikan pengetahuan yang menjadi materi kurikulum pendidikan Islam kepada tiga kategori:
  1. Kategori pertama adalah materi pelajaran yang dikaitkan dengan Al-Qur’an dan Hadits, atau biasa dikenal dengan isltilah materi pelajaran agama.
  2. Kategori kedua dalam bidang ilmupengetahuan yang termasuk dalam isi kurikulum pendidikan Islam adalah ilmu-ilmu tentang kemanusiaan (al-Insaniyyah), kategori ini meliputi bidang-bidang psikologi, sosiologi, sejarah dan lain-lain.
  3. Kategori ketiga yaitu ilmu-ilmu kealaman (Al-Ulum Al-Kawniyah), termasuk dalam kategori ini biologi, fisika,botani, astronomi dan lain-lain.

G.  Orientasi Kurikulum Pendidikan Islam

Kurikulum pendidikan islam berorientasi kepada:
1.      Orientasi pelestarian nilai
Dalam pandangan islam, nilai terbagi atas dua macam, yaitu nilai yang turun dari Allah swt yang disebut dengan nilai ilahiah dan nilai yang tumbuh dan berkembang dari peradaban manusia sendiri yang disebut dengan nilai insaniah. Kedua nilai tersebut selanjutnya membentuk norma-norma atau kaidah-kaidah kehidupan yang dianut dan melembaga pada masyaraka yang mendukungnya.
2.      Orientasi pada peserta didik
Orientasi ini diarahkan pada pembinaan tiga dimensi peserta didiknya.
a.       Dimensi kepribadian sebagai manusia, yaitu kemampuan untuk menjaga integritas antara sikap, tingkah laku, etika dan moralitas.
b.      Dimensi produktivitas yang menyangkut apa yang dihasilkan anak didik dalam jumlah yang lebih banyak kualitas yang lebih baik setelah ia menamatkan pendidikannya.
c.       Dimensi kreativitas yang menyangkut kemampuan anak didik untuk berpikir dan berbuat, menciptakan sesuatu yang berguna bagi diri sendiri dan masyarakat.
3.      Orientasi pada masa depan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Kemajuan suatu jaman ditandai oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi seta produk-produk yang dihasilkannya.
4.      Orientasi pada social ekonomi
Masyarakat yang maju adalah masyarakat yang ditandai oleh munculnya berbagai peradaban dan kebudayaan sehingga masyarakat tersebut mengalami perubahan dan perkembangan yang pesat walaupun perkembangan itu tidak mencapai pada titik kulminasi. Hal ini karena kehidupan adalah berkembang, tanpa perkembangan berarti tidak ada kehidupan.
5.      Orientasi pada tenaga kerja
Manusia sebagai makhluk bioligis mempunyai unsur mekanisme jasmani yang membutuhkan kebutuhan-kebutuhan lahiriah, misalnya makan-minum, bertempat tinggal yang layak, dll. Kebutuhan-kebutuhan tersebut harus dipenuhi secara layak, dan salah satu diantaranya persiapan untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan yang layak adalah melalui pendidikan.
6.      Orientasi penciptaan lapangan kerja
Orientasi pada penciptaan lapangan kerja. Orientasi ini tidak hanya memberikan arahan kepada kurikulum bagaimana menciptakan peserta didik yang terampil agar dapat mengisi lapangan kerja didalam masyarakat-tetapi mengingat terbatasnya lapangan kerja., maka kurikulum hendaknya dapat pula menciptakan peserta didik yang dapat membuat lapangan kerja baru yang dapat menyerap tenaga kerja terutama dirinya dan orang lain.












BAB III
PENUTUP

Seorang pendidik harus mengerti kurikulum, dan harus menggunakan kurikulum dengan menyesuaikan tempat, alat, kemajuan dan lain sebagainya. Banyak hal yang harus diperhatikan dalam kurikulum. Seorang pendidik harus cermat menggunakan dan mengikuti kurikulum. Dengan menggunakan kurikulum yang tepat maka tujuannya pun akan tercapai dengan baik.
Dari tahun ke tahun kurikulum akan terus berubah sesuai dengan perubahan dan perkembangan pemikiran manusia. Namun bagaimana cara mengatasi perubahan tersebut, hal ini sangat tergantung kepada kecermatan pengembang kurikulum itu sendiri. Satu hal yang harus dan mesti diperhatikan adalah bagaimana lembaga pendidikan Islam dapat mengantisipasi masalah ini, tanpa melupakan esensi ajaran-ajaran agama Islam itu sendiri.










DAFTAR PUSTAKA

Ramayulis. 2011. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia
Ali, Gandi, Hasniyati. 2008. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Quantum Teaching



[1] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta, Kalam Mulia, 2011) cet-9, hal 150
[2] Ibid, hal 150
[3] Hasniyati Gandi Ali, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta, Quantum Teaching, 2008) cet-1, hal 78

Tidak ada komentar:

Posting Komentar